Pages

Subscribe:

Senin, 07 November 2011

PENDELEGASIAN


PENDELEGASIAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Manajemen Keperawatan I
Dosen : Ns. Andriyani Mustika N, S.Kep



Disusun Oleh :
1.      Dewi Purwanti                        SK.109.034
2.      Dewinta Astri Widuri             SK.109.035
3.      Dhenis Jrindika Setiawan      SK.109.036
4.      Dia Ismawati                           SK.109.037
5.      Diani Puji Hesti                       SK.109.039
6.      Dika Wijayandaru                  SK.109.040
7.      Dinda Yanuarita                     SK.109.041
8.      Dwi Khasani                           SK.109.043

KELOMPOK 5


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
TAHUN AKADEMIK 2011-2012



PENDELEGASIAN

A.      Pengertian
Salasatu demensi pengelolaan  yang penting adalah delegasi (Delegation) secara singkat dapat dikatakan bahwa delegasi adalah pemberian sebagaian tanggung jawab dan kewibawaan kepada orang lain (Charles J. Keating : hal. 1991). Lebih lanjut lagi Taiylor, (1993 : 68) Mengatakan bahwa pendelegasian adalah suatu proses untuk mengembangkan  pegawai pegawai anda.  P. Jenks (1991: 45) Dalam bukunya Delegas kunci management menyatakan bahwa  Menjadi seorang delegator yang baik adalah merupakan suatu proses belajar maupun sebagai suatu cara untuk memperoleh hasil yang spesifik.
Delegasi adalah tindakan memberikan wewenang dan tanggung jawab formal untuk menyelesaikan aktivitas spesifik kepada bawahan. Sentralisasi adalah sebagian besar wewenang atau kekuasaan masih tetap dipegang oleh manager puncak. Hanya sebagian kecil saja dikabarkan keseluruhan struktur organisasi. Desentralisasi adalah sebagian besar wewenang atau kekuasaan dipegang oleh manajer puncak, sedang sebagian besar kekuasaan menyebar pada seluruh struktur organisasi.
Pendelegasian ialah proses terorganisir dalam kerangka hidup organisasi/keorganisasian untuk secara langsung melibatkan sebanyak mungkin orang dan pribadi dalam pembuatan keputusan, pengarahan, dan pengerjaan kerja-yang berkaitan dengan pemastian tugas.
Pendelegasian ialah tindakan memercayakan tugas (yang pasti dan jelas), kewenangan, hak, tanggung jawab, kewajiban, dan pertanggungjawaban kepada bawahan secara individu dalam setiap posisi tugas. Pendelegasian dilakukan dengan cara membagi tugas, kewenangan, hak, tanggung jawab, kewajiban, serta pertanggungjawaban, yang ditetapkan dalam suatu penjabaran/deskripsi tugas formil dalam organisasi.

B.       Metode-metode Pendelegasian
Dalam  menjalankan delegasi, kita sebagai pemimpin kepala sekolah sering ragu ragu dalam menjalankan delegasi, sebab ada hal hal yang sering kita mendelegasikan pekerjaan itu kepada orang lain mempunyai rasa takut, ada  resiko sebab ada perbedaan dan jarak antara kita dan orang yang kita serahi delegasi. Tetapi rasa takut  itu tidak perlu menindakan  pentingnya delegasi. Ada unsur - unsur yang menyangkut dengan delegasi
·         apa yang diberi didelegasikan
·         saling terbuka antara diberi delegasi dan menerima delegasi
·         transparansi tentang delegasi
·         ada harapan yang diserahi delegasi
·         kekuasaan yang di serahi sepenunya
·         pengawasan yang wajar
·         orang yang di serahi delegasi

Berbagai Kekuasaan dan Memberi Wewenang
Delegasi berarti bahwa pemberian wewenang dan delegasi merupakan konsep yang paling  utama. Sehingga dapat membentuk staf/atau guru guru /bawahan dalam organisasi (sekolah) untuk dapat meningkatkan kinerja. Hal ini kepala sekolah telah berbagi wewenang dengan bawahan dengan cara memberikan kesempatan untuk membuat.
Dalam pelimpahan ini juga sebagai motivasi yang ingin maju, untuk menambah keahlian, memperluas pengalam kerja dan ingin di beri tanggung jawab lebih oleh atasanya
Delegasi sebagai bentuk penegembangan kerja yang informal dapat membantu, mengontrol ambisi yang berlebihan. Teori motivasional mengagap delegasi sebagai alat motivasi yang bagus sekali karena delegasi :
·         membantu untuk memeuaskan ego kebutuhan akan penghargaan (Abraham Maslow).
·         memberikan karyawan kesempatan untuk berkembang dalam pekerjaan yang mereka lakukan sekarang (Feredik Herzberg)
·         merupakan wujud kepercayaan dan percaya diri, yang merupakan inti dari manejer Teori Y (Douglas McGregor)
Pilih Orang Yang tepat
Sperti kita ketahui bahwa, delegasi lebih dari sekedar memberikan orang untuk mengerjakan sesuatu. Dengan mengikuti cara pemlihan orang yang tepat dan teratur dan bijak, memilih bawahan dengan keahlian yang paling cocok dengan pekerjaanya, atau memilih staf atau karyawan yang sekiranya akan mendapatkan pengalaman yang berguna dari pekerjaan yang didelegasikan.
Untuk suatu pekerjaan yang berbobot pastikan bahwa anda mnunjukan betapa pentingnya pekerjaan tersebut bagi organisasi. Departemen, sekolah atau instansi jangan beranggapan bahwa anda akan secara otomatis memahami atau menghargai impas jangka panjang dari pekerjaan tersebut. Hal tersebut banyak memberikan konstribusi tersembunyi seperti :
Ø  meningkatkan keahlian karyawan
Ø  melengkapi kemampuan tim
Ø  menunjukan sala satu area yang di targetkan untuk mengembangkan untuk rencana pengembangan karer
Ø  bantulah kariawan atau staf memperoleh pengalaman sehingga siap menghadapi masaalah saat terjadi persoalan dalam pekerjaan.

Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam proses delegasi kekuasaan sehingga dapat berjalan efektif  keempat hal tersebut adalah :
Ø  Dalam pemberian suatu delegasi kekuasaan atau tugas harus lah dibarengi dengan pemberian tanggung jawab.
Ø  Kekuasaan yang didelegasikan harus pada orang yang tepat baik dari segi kualifikasi maupun segi fisik.
Ø  Mendelegasikan kekuasaan pada seseorang juga harus dibarengi dengan pemberian motivasi.
Ø  Pimpinan yang mendelegasikan kekuasaannya harus membimbing dan mengawasi orang yang menerima delegasi tersebut.

Dengan demikian pendelegasian kekuasaan mempunyai manfaat ganda diantaranya adalah:
Ø  Pimpinan dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan pokoknya.
Ø  Putusan dapat dibuat dengan lebih cepat dan pada unit yang tepat.
Ø  Inisiatiif dan rasa tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi.
Ø  Mendidik dan mengembangkan bawahan sehigga mampu diberi beban tugas yang lebih besar dan berat lagi nantinya.

Delegasi Kekuasaan
Manajemen oleh delegasi kekuasaan dengan mendelegasikan pengelolaan transfer ke orang lain, pada tingkat lebih rendah kewenangan manajemen formal dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas tertentu, tugas dan tanggung jawab rutin dan operasional tetapi tidak tugas strategis. Kekuasaan atau power berarti suatu kemampuan untuk mempengaruhi orang atau merubah orang atau situasi

Kekuasaan
Kekuasaan dan keagungan berada diantara kesenangan setiap orang (Russel, 1938), dimana semua kesenangan dapat berada diatas segalanya hanya melalui kekuasaan (Nietzelsche,.1929). karena kekuasaan orang menjadi koruptor, dimana kewenangan dapat menjadikan orang leluasa membuat penyimpangan (Sennet, 1980), serta dengan kekuasaan orang akan mudah membuat kebobrokan dan kesalahan yang tidak menyenangkan orang lain pada umumnya (Niebuhr, 1949).
Berdasarkan teori organisasi dinyatakan, ada bentuk kekuasaan yang ada didalam suatu bentuk struktur organisasi, antara lain kekuasaan paksaan (coersive power), kekuasaan imbalan (reward power), kekuasaan yang legitimet (legitimate power), kekuasaan yang direkomendasi (reffernce power), dan kekuasaan karena keahlian (expert power), serta kekuasaan perwakilan (representatife power). Selanjutnya kekuasaan dapat dilihat berdasarkan jalur hirakhi, seperti kekuasaan atas dan kebawah (vertical power), serta kesamaping (lateral and diagonal power).
1.    Kekuasaan Paksaan (Coersive Power)
Kekuasaan yang dengan paksaan pada dasarnya merupakan uasaha  atasan terhadap bawahannya untuk melaksanakan usaha menyelesaikan pekerjaan.

2.    Kekuasaan Imbalan (Reward Power)
Kekuasaan yang terbentuk karena pemberian imbalan merupakan dasar bagi pengikut (bawahan) yang mempengaruhi kapasitas kerja mereka sesuai dengan besarnya imbalan yang diterima.
3.    Kekuasaan Dilegitimasi (Legitimate Power)
Kekuasaan harus direspons oleh pihak pengikutnya, apabila tidak ada respons dari pengikutnya, maka kekuasaan itu dikatakan hampa atau tanpa wibawa.
Seorang prajurit akan merespons posisi komandan karena pangkatnya lebih tinggi. Pada system tradisional, seorang pengikut akan selalu merespons pimpinannya (Peabdy, 1964).
4.    Kekuasaan Referensi
Pengaruh yang didasari atas rekomendasi dari kepercayaan yang tersembunyi didalam diri seorang pemimpin besar disebut sebagai “Kharisma” (Weber, 1964).
5.    Kekuasaan Keahlian (Expert Power)
Gambaran dari para manajer yang berskala internasional adalah dapat membuat strategi yang istimewa untuk mengatasi pengaruh-pengaruh yang sangat dominan terhadap setiap permasalahan. Dengan pendekatan pada pengaruh, diikuti dengan respons yang menyebabkan yang sangat diyakini seorang pemimpin, akan dapat diketahui apa yang akan dikatakan; seberapa besar penyebab yang mempengaruhi disbanding kemampuan yang dimiliki untuk mengetahui pengaruh itu (Albanese, 1973).
a. Keahlian Menganalisis Risiko
Pada umumnya pasien (orang sakit) akan lebih yakin dan percaya apabila berobat ke dokter yang telah berpengalaman (specialist), yang telah meiliki rekor penyembuhan orang sakit, dibandingkan kepada dokter yang baru yang belum banyak pengalaman. Demikian juga pengikut (bawahan), akan lebih mengakui pimpinannya apabila pimpinan itu telah banyak pengalaman dan mampu untuk menganalisis serta memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi, umpamanya memperkecil risiko kecelakaan kerja serta memperkecil kerugian materi bagi bawahannya.
b. Meyakinkan Pengikut (Bawahan)
Pemimpin yang mampu meyakinkan pengikutnya (bawahan) secara rasional akan dapat menjelaskan bagaimana kativitas harus dilakukan dengan suatu performa yang minimal harus dimilki. Pengikut akan mematuhi atasannya apabila pengikut diberi pengertian serta alas an mengapa di dalam pelaksanaan sesuatu tugas dibutuhkan suatu kesepakatan didalam menentukan sasaran dan tujuan dari kelompoknya.
6.    Kekuasaan Perwakilan (Representative Power)
Kekuasaan perwakilan (representative power) merupakan kekuasaan yang diperoleh karena pemegang kekuasaan tersebut dipercaya kelompok sebagai delegasi untuk menyelesaikan tuntutan dan harapan pengikutnya. Pendelegasian kekuasaan kepada pimpinan dimungkinkan sepanjang bawahan mengetahui batas kemampuan pimpinan yang dilegitimasi tersebut. Sebaliknya, apabila bawahan sudah mengetahui kemampuan dari pimpinan itu tidak layak untuk menerima delegasi kekuasaan, maka kelompok atau pengikut akan menarik kepercayaannya dan tidak lagi mengakui kekuasaan pemimpin itu.



C.   Sifat Delegasi
1.  Pendelegasian tidak sama pada setiap tingkat hierarki organisasi. Besar kecilnya pendelegasian adalah sesuai dengan tugas, hak, wewenang, kewajiban, tanggung jawab, dan pertanggungjawaban setiap individu dalam hierarki organisasi.
2. Pendelegasian tidak dapat ditransfer dari satu tugas ke tugas yang lain dalam suatu organisasi karena satu pendelegasian berlaku untuk satu tugas saja.

Sikap Terhadap Delegasi
Ada beberapa sikap terhadap delegasi/pendelegasian yang memiliki efek negatif ataupun positif. Sikap-sikap tersebut adalah sebagai berikut.
1. Pemimpin sering tidak mendelegasikan tugas karena pelbagai alasan, yaitu pemimpin tidak tahu atau takut, dan mempertahankan status quo, serta tidak memercayai orang lain/mencurigai orang lain.
2. Pemimpin sering mendelegasikan semua tugas karena pemimpin tidak tahu ataupun ingin membebaskan diri/meringankan diri dari kewajibannya.
3. Pemimpin sering mendelegasikan sedikit tugas karena pemimpin takut atau sangat hati-hati, atau kurang/tidak percaya.
4. Pemimpin dapat dan patut mendelegasikan tugas dengan bertanggung jawab. Hal ini dapat dilakukan dengan memerhatikan beberapa faktor penting berikut ini :
1. Tugas yang tepat harus diberikan kepada orang yang tepat pula, sesuai dengan kapasitas/kompetensi yang ada padanya.
2. Tugas yang tepat yang akan didelegasikan harus sepadan dengan wewenang, hak, tanggung jawab, kewajiban, dan pertanggungjawaban yang tepat pula.
3. Memercayakan suatu tugas harus disertai perhitungan waktu yang tepat, kondisi yang tepat dalam suatu sistem manajemen terpadu yang baik.
4. Pendelegasian harus dilaksanakan dengan ekspektasi pragmatis yang didukung oleh sistem pengawasan yang baik guna menciptakan efektivitas dan efisiensi kerja serta produksi yang tinggi.
5. Pemimpin sebagai pemberi tugas harus secara konsisten memberikan dukungan penuh ("backing") kepada setiap bawahan yang menerima pendelegasian tugas darinya.
6. Pendelegasian yang dilaksanakan dengan cara yang tepat, dapat didefinisikan sebagai empat hal berikut :
Cara bijaksana, yaitu sikap bertanggung jawab penuh dari pemimpin dan bawahan. Pemimpin melaksanakan pendelegasian serta memberi dukungan, sementara bawahan siap serta taat kepada pemimpin dalam melaksanakan tugas/tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
Cara konsistensi, yaitu sikap pasti yang terus-menerus dipertahankan oleh pemimpin dan bawahan, antara lain:
1. tetap (tidak berubah) -- berdasarkan ketentuan/polisi kerja organisasi yang berlaku;
2. teratur (berdasarkan sasaran/kecepatan/ketertiban yang diminta) -- sesuai dengan sistem manajemen organisasi yang ada.
3. terus-menerus (mencegah/mengatasi hambatan dengan bekerja secara tetap) -- yaitu sesuai dengan tuntutan kerja dan batas waktu yang telah ditetapkan.
Efektif dan efisien, yaitu memperhitungkan faktor kualitas dan kuantitas kerja.
Pragmatis dan produktif, yaitu berorientasi kepada hasil atau produksi tinggi, sesuai dengan perencanaan.

Pola Pendelegasian
Pola pendelegasian yang membawa hasil memiliki ciri-ciri khusus yang harus dipahami oleh setiap orang. Ciri-ciri khusus tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Pendelegasian yang menghasilkan bukanlah pendelegasian pesuruh/babu "Jalankan ini, jalankan itu, lakukan ini, lakukan itu, dsb." Pendelegasian yang sebenarnya tidak berfokus pada prosedur- prosedur dan cara-cara yang digunakan, tetapi terarah kepada upaya pencapaian sasaran/target dan hasil-hasilnya. Prosedur dapat ditetapkan dalam         polis/suatu ketentuan, tetapi cara/metode harus dicari sendiri dan dikembangkan oleh setiap pekerja.
2. Pendelegasian yang menghasilkan adalah pendelegasian penatalayanan, yaitu pendelegasian yang berwawasan serta bertujuan melayani.

D.   Aspek-aspek pendelegasian
1. Fokus pendelegasian adalah hasil kerja yang diharapkan tercapai, dalam upaya menggapai sasaran/tujuan akhir dari organisasi.
2. Pendelegasian dilaksanakan dengan sikap hormat yang didasarkan atas penghargaan dan kesadaran terhadap diri sendiri sebagai sesuatu yang "berharga", serta memerhatikan harga diri dan kehendak bebas orang lain, di mana setiap pekerja dipandang sebagai subjek, dan bukan objek kerja.
3. Pendelegasian yang menghasilkan melibatkan harapan-harapan yang meliputi bidang berikut :
- Menekankan pada tercapainya hasil-hasil yang didambakan atau diinginkan pada waktu  depan yang telah ditentukan ("desired results").
·      Pendelegasian menyatakan dengan tegas tentang apa yang harus dicapai, bukan bagaimana mencapainya, di mana fokus utama diarahkan kepada hasil produksi.
·      Pendelegasian memberikan tugas, wewenang, hak, tanggung jawab, kewajiban membuat/memberi laporan pada awal tugas, dalam tugas, dan akhir tugas untuk diketahui dan dievaluasi oleh pemimpin.
- Pelaksanaannya dilandasi pedoman/petunjuk ("guidelines") yang jelas, baik bagi tugas maupun pelaksana tugas. Artinya pendelegasian menyatakan pedoman-pedoman, larangan-larangan, dan batas-batas dimana seseorang harus bekerja/melakukan kewajibannya. Hal ini menolong setiap orang untuk bekerja dengan baik/patut.
- Melibatkan sumber-sumber daya ("resources") yang pasti. Pendelegasian menyatakan (disertai dengan pernyataan) akan adanya sumber-sumber daya, antara lain sumber daya manusia, keuangan, teknis, atau organisasi yang dapat dipakai seseorang untuk menyelesaikan tugas yang didelegasikan kepadanya.
- Dinyatakan dengan adanya tanggung jawab dan pertanggungjawaban ("responsibility" dan "accountability"). Pendelegasian menyatakan patokan yang akan digunakan untuk menilai hasil/prestasi akhir, yang diwujudkan dengan adanya tanggung jawab dan pertanggungjawaban kerja yang dapat dilakukan dengan membuat/memberi pelaporan pada awal tugas, dalam tugas, dan akhir tugas untuk diketahui dan dievaluasi oleh pemimpin.
- Mempertimbangkan risiko-risiko yang akan terjadi atau ditindaki ("consequences"). Pendelegasian dapat menyatakan akibat-akibat yang akan terjadi, yang baik maupun yang tidak baik, sebagai hasil dari suatu pekerjaan atau tugas yang didelegasikan. Akibat-akibat ini dapat diukur melalui evaluasi/pengkajian yang dilakukan dengan meneliti deskripsi tugas dan hasil kerja atau produk yang telah dilakukan atau dihasilkan. Dengan menanyakan apakah semuanya ini telah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan rencana, ketentuan dan prosedur, ataukah malah sebaliknya.

MASALAH PENDELEGASIAN
Dalam pendelegasian, sering kali timbul masalah yang bersumber pada fakta berikut.
1. Tugas yang didelegasikan terlampau banyak, atau terlalu sedikit, yang dalam kenyataannya tidak sesuai dengan kapasitas bawahan.
2. Tidak ada pelatihan bagi tugas, baik pelatihan tugas, atau latihan di dalam tugas ("in-service training").
3. Informasi yang kabur. Yang bersumber dari pemimpin yang "kurang jelas" dalam berkomunikasi dengan para bawahan, atau gengsi dari bawahan, yang walaupun tidak memahami suatu informasi, tetapi malu untuk bertanya.
4. Komando dari atas yang datang dari dua sumber yang berbeda. Ini menciptakan kebingungan bagi dan di antara para bawahan yang dihadapkan dengan pertanyaan, "perintah yang mana yang harus dituruti?"
5. Bawahan tidak mengerti nilai dari tugas yang diinformasikan. Apakah tugas tersebut sangat mendesak karena bernilai primer atau dapat ditunda karena sifatnya yang kurang penting, dsb.
6. Harapan pemimpin yang berlebihan, tanpa mengetahui dengan jelas akan kemampuan para bawahannya dengan pasti.
7. Motivasi dan harapan para bawahan yang bersifat kompleks terhadap pemimpin, tugas, imbalan, situasi/kondisi, dsb.

E.   Pengertian Pendelegasian Wewenang
Wewenang (authority) adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu (T. Hani Handoko). Sedangkan menurut Harold Koontz and Cyril O’Donnel pendelegasian wewenang merupakan pokok yang didapat kembali oleh pemberi wewenang. Hal itu adalah suatu sifat wewenang, si pemilik wewenang (pemimpin) tidak selamanya menyelesaikannya sendiri kekuasaan ini dengan menyerahkan wewenang itu. Dengan demikian maka proses Pendelegasian wewenang itu merupakan hubungan atasan dengan bawahan, merupakan mata rantai yang terus-menerus bersambung.
Seseorang pemimpin baru dapat melakukan kegiatan atau memerintah setelah ia memperoleh wewenang. Bawahan tidak akan melakukan kegiatan dalam perusahaan, jika tidak ada perintah dari atasan, sehingga tidak ada kegiatan dalam perusahaan atau perusahaan tidak dapat merealisasi tujuannya. Delegation of authority sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara tepat, karena dalam Delegation of authority ini terdapat sifat “Du Characteristic”. Du Characteristic, artinya pihak bawahan menerima wewenang dari atasan tetapi pada saat yang sama atasan yang bersangkutan tetapi memiliki wewenang tersebut. Pemimpin (delegator) tidak hilang haknya terhadap wewenang yang telah didelegasikan itu.

I. Hirarki Wewenang
·      Manajer (administrative management)
Yaitu pemimpin yang titik berat pekerjaannya dalam bidang pikiran, manajerial, fungsi-fungsi manajemen serta menentukan kebijakan, prosedur yang kan ditempuh untuk mencapai tujuan organisasi.
·      Pelaksana (operative management)
Yaitu pejabat yang titik pekerjaanya dalam bidang teknis dalam melaksanakan pekerjaan utnuk mencapai tujuan organisasi.
·      Interpreter
Yaitu pejabat manajemen yang berperan ganda, artinya pada suatu saat sebagai administrative management dan pada saat lain sebagai operative management. Sebab pejabat manajemen ini menterjemahkan hasil kerja manajer ke dalam bahasa operatif.

II.             Prinsip-prinsip Wewenang
Proses pelimpahan wewenang harus mencakup 3 unsur yaitu adanya ;
·      Tugas
·      Kekuasaan
·      Pertanggung Jawaban.
·      Wewenang yang didelegasikan harus kepada orang yang tepat
·      Pelimpahan wewenang harus disertai pemberian motivasi
·      Adanya hubungan dan pengawan pada penerima pelimpahan wewenang.

III. Jenis-jenis Wewenang
  Line authority
Wewenang manajer yang bertanggung jawab langsung, diseluruh rantai komando organisasi, untuk mencapai sasaran organisasi.
  Staff authority
Wewenang kelompok individu yang menyediakan sasaran dan jasa kepada manajer lini.
  Fungsional authority.
Wewenang anggota staff departemen untuk mengendalikan aktivitas departemen lain karena berkaitan dengan tanggung jawab staff khusus.

IV. Sumber-sumber Wewenang
a. Formal authority theory (teori wewenang formal);
b. Accetence authority theory (teori penerimaan wewenang);
c. Authority ot the situation (teori wewenang situasional);
d. Positioon authority (wewenang posisi);
e. Technical authority (wewenang teknis);
f. Yuridis authority (wewenang karena hokum).

V. Pedoman Pendelegasian Efektif
1. Prasyarat;
2. Kesediaan manajer untuk memberikan kebebasan kepada karyawanya untuk menyelesaikan tugas yang didelegasikan;
3. Komunikasi terbuka antara manajer dan karyawannya;
4. Kemampuan manajer untuk menganalisis factor-faktor seperti sasaran organisasi,  persyaratan tugas, dan kemampuan karyawan.

VI. Tugas Delegasi Efektif
1. Putuskan tugas mana yang dapat didelegasikan;
2. Putuskan siapa yang kan mendapat penugasan;
3. Siapkan sumber daya yang memadai untuk menalaksanan tugas yang didelegasikan;
4. Delegasikan tugas;
5. Bersiap untuk melakukan campur tangan bila perlu;
6. Tetapkan system umpan balik.

F.    Proses Pendelegasian Wewenang dan Pengambilan Keputusan
Proses dasar pembuatan keputusan rasional hamper sama dengan proses perencanaan strategic formal. Ini mencakup indentifikasi dan diagnose masalah, pengumpulan dan analisa data yang relevan, pengembangan alternative-laternative, penilaian berbagai alternative penyelesaian, pemilihan alternative terbaik, implementasi keputusan dan evaluasi hasil-hasil.
Sedangkan pendelagasian menetapkan dan memberikan tujuan dan tugas kepada bawahan. Dalam pendelegasianya dapat melimpahkan wewenang yang diperlukan untuk mencapai tujuan tujuan atau tugas. Dan disaat penerimaan delegasi, baik implist atau eksplisit, menimbulkan kewajiban atau tanggung jawab. Untuk menerima pendelgasian diperlukan juga pertanggungjawaban untuk hasil-hasil yang dicapai.


DAFTAR PUSTAKA
Charles J. Keating. 1991. Kepemimpinan teori dan Pengembanganya. Yogyakar  Kanisius
Harold L. Tailor. 1993. Delegasi Kunci Managemen Yang Berhasil. Jakarta :Bina Rupa aksara
Jenks. 1991. Delegasi Dalam Managemen Perusahan. Jakarta : Bina Aksara.
Josep T. Straub. 2006. Seri Managemen Mendelegasikan Pekerjaan. Yogyakarta :Oryza.
P. Nowen. 2000.  Mencari Makna Kekuasaan. Yogyakarta : Kansius

7 komentar:

Manajemen Kelompok 6 mengatakan...

eni s.kel 6:
saya ingin bertanya: apa dampak dan manfaat dari pendelegasian bagi bawahan (perawat)??

Ners Koplax mengatakan...

Dhaenis (5) menjawab : dampak delegasi untuk perawat yaitu kinerja seorang perawat kurang maksimal, kemudian pekerjaan yang seharusnya perawat lakukan yaitu asuhan keperawatan kurang bisa mengena pada klien...manfaatnya yaitu kita lebih mudah n target bisa tertuju dengan universal, meringankan kerja tim dan bisa sharing dengan tim..

manajemen kelompok 4 mengatakan...

deivina vivian kelompok 4,,ingin bertanya,,,,menurut anda dari jenis pendelegasian kan ada dua,,,manakah yang sering digunakan dalam dunia keperawatan,,,,dari pengalaman anda praktek kemaren,,,,?lalu kenapa pendelegasian itu yang dipakai apa kelemahan dan kelebihan,,,,dari pendelegasian tersebut,,,,
mkch

Manajemen Kelompok 6 mengatakan...

ela fatmawati : pendelegasian kekuasaan itu apa menurut anda?? dan berikan contohnya??

manajemen keperawatan mengatakan...

AHMAD KOHAR AL MUZAKAR AZ ZAHRA:dri klmpk 1 bertanya; jelaskan tujuan dan maksud dari pendelegasian, mohon jelaskan/?????? makasih sepuro

Ners Koplax mengatakan...

diani kel 5 ;
saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbak ela.
menurut saya secara singkat pendelegasian yaitu pemberian kekuasaan atau wewenang kepada bawahannya.
contoh ; seorang kepala ruang memberikan suatu tugas kepada bawahannya / staf
apabila anda mempunyai saran yang lain boleh ditambahkan, makasih...............

Ners Koplax mengatakan...

dia ismawati dan diani p.h kel 5;
saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari ahmad kohar
tujuan pendelegasian yaitu ;
1. meringankan tugas kepala ruang
2. agar kela ruang bisa lebih fokus pada tugas pokoknya.
3. untuk melatih staf dalam bekerja, supaya lain kali bisa diberi tugas yang lebih penting lagi
4. untuk mengembangkan ketrampilan staf dalam memanajemen dan memimpin
itu sebagian kecil dari tujuan pendelegasian, apabila anda ingin menambahkan boleh di tambahkan.
makasih

Poskan Komentar